HARIANEXPRESS — Ustadz Abdul Somad (UAS) membagikan refleksi tentang hubungan orang tua dan anak dengan berkaca pada pengalamannya bersama almarhumah sang ibu, Hajah Rohana.
Dalam ceramah bertajuk Menjadi Orang Tua yang Dicintai Anak, UAS mengaku sempat mempertanyakan apakah anak-anaknya benar-benar mencintainya.
Dari pertanyaan itu, ia kemudian membalik sudut pandang. Alih-alih langsung menjelaskan cara agar orang tua dicintai anak, UAS mencoba mengingat apa yang dilakukan ibunya hingga membuat dirinya begitu mencintai sang ibu.
Menurut UAS, ada sejumlah kebiasaan sederhana yang meninggalkan pengaruh sangat besar bagi seorang anak.
1. Sering Mengajak Anak Berbicara
Hal pertama yang paling dikenang UAS dari ibunya adalah kebiasaan mengobrol dan bercerita.
Sejak kecil, ia kerap mendengar cerita tentang keluarga, leluhur, pengalaman hidup, hingga kisah-kisah agama dari sang ibu.
Menurut UAS, kebiasaan tersebut ikut membentuk cara dirinya berkomunikasi dan berdakwah hingga sekarang.
Ia menilai aktivitas mengobrol antara orang tua dan anak saat ini mulai banyak berkurang karena perhatian sering tersita oleh telepon genggam dan kebiasaan menggulir media sosial.
“Scrolling mengalahkan chatting,” ujar UAS dalam ceramah tersebut.
Ia menilai cerita keluarga juga penting untuk membuat anak mengenal asal-usul, hubungan kekerabatan, serta nilai yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
2. Mengurus dan Mendampingi Anak
Hal kedua yang membuat UAS merasa sangat dekat dengan ibunya adalah perhatian yang diberikan dalam pendidikan dan kehidupannya.
Ia menceritakan bagaimana sang ibu mendampinginya sejak sekolah, mencarikan guru Al-Qur’an, mengurus perpindahan sekolah, hingga terus mendorongnya agar tidak berhenti belajar.
Ketika UAS sempat ingin meninggalkan sekolah dan memilih berdagang, ibunya tetap berusaha agar ia melanjutkan pendidikan.
Dukungan itu berlanjut sampai UAS menempuh pendidikan di Mesir dan Maroko.
Ia juga mengenang bagaimana ibunya terus mendorongnya mencoba menjadi dosen setelah kembali dari luar negeri.
Namun, dukungan tersebut tetap disertai batas moral.
Ketika UAS pernah mendapat saran untuk melakukan pendekatan kepada pejabat kampus agar peluang lolos seleksi lebih besar, sang ibu justru melarangnya.
Menurut cerita UAS, ibunya menekankan bahwa pekerjaan dan rezeki harus diperoleh dengan cara yang baik.
3. Memberi Contoh, Bukan Hanya Nasihat
Hal ketiga yang dikenang UAS adalah konsistensi antara ucapan dan perbuatan sang ibu.
Ia menyebut ibunya rutin menjalankan ibadah seperti salat tahajud, puasa sunah, membaca Al-Qur’an, serta berdzikir.
Bagi UAS, nasihat menjadi jauh lebih kuat ketika orang tua sendiri menjalankan apa yang mereka ajarkan.
Ia kemudian mengingatkan agar orang tua tidak hanya pandai berbicara tetapi minim tindakan.
UAS menyebutnya dengan istilah bercanda, “NATO: No Action, Talking Only.”
Keteladanan tersebut menurutnya menjadi salah satu hal yang membuat nasihat orang tua terus teringat bahkan setelah mereka meninggal.
4. Tidak Berhenti Memberi Nasihat dan Doa
UAS juga mengenang ibunya sebagai sosok yang tidak pernah berhenti mengingatkan dirinya.
Salah satu kalimat yang terus diingat UAS adalah pesan agar dirinya tidak melakukan sesuatu yang buruk atau melanggar prinsip.
Pesan sederhana itu disebutnya masih muncul dalam ingatan ketika menghadapi pilihan atau godaan tertentu.
Sang ibu juga disebut selalu mengingatkan agar ia menjaga Al-Qur’an, menjadi imam, mengajar, dan tidak terjebak oleh popularitas.
Setelah ibunya meninggal dunia, UAS mengaku baru mengetahui bahwa sang ibu rutin mendoakannya selepas tahajud.
Dalam ceramah itu, ia menceritakan bahwa ibunya membaca Al-Fatihah sambil memohon kesehatan, perlindungan, dan kekuatan untuk anaknya.
5. Menciptakan Kenangan yang Melekat
Hal terakhir yang banyak dikenang UAS adalah momen-momen kecil bersama ibunya.
Sang ibu sering menyanyikan syair dan lagu yang berisi pesan kehidupan, kematian, serta nasihat agama.
Kenangan semacam itu tetap tertanam dalam ingatannya hingga dewasa.
Menurut UAS, hubungan orang tua dan anak tidak hanya dibangun melalui aturan atau kewajiban, tetapi juga melalui perhatian, percakapan, doa, dan kebersamaan yang berlangsung bertahun-tahun.
Anak Tetap Anak di Mata Orang Tua
Salah satu bagian paling emosional dalam ceramah itu muncul ketika UAS menceritakan percakapannya dengan sang ibu.
Meski dirinya telah dikenal luas sebagai ustaz, ibunya tidak pernah memandangnya sebagai tokoh besar.
“Saya tidak pernah melihat kamu sebagai ustaz. Saya melihat kamu seperti anak kecil yang baru belajar berjalan,” demikian cerita UAS mengenai perkataan ibunya.
Ia mengaku baru memahami makna ucapan itu setelah memiliki anak sendiri.
Meski anaknya telah tumbuh lebih besar dan tinggi, dalam pandangannya sang anak tetap terbayang seperti anak kecil yang dahulu digendong.
UAS kemudian mengatakan banyak perkataan orang tua baru benar-benar dipahami setelah seseorang tumbuh dewasa atau setelah orang tuanya telah tiada.
Cinta Harus Dibuktikan
UAS menekankan bahwa kasih sayang kepada orang tua tidak cukup hanya disampaikan melalui ucapan.
Setelah ibunya wafat, ia menceritakan sebagian harta peninggalan yang menjadi bagiannya digunakan untuk membangun Masjid Hajah Rohana.
Rumah sang ibu juga dijadikan wakaf untuk kegiatan sosial.
Menurut UAS, kecintaan kepada orang tua perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
Di akhir ceramah, ia mengajak jamaah yang orang tuanya masih hidup untuk memberikan perhatian dan membahagiakan mereka.
Sementara bagi orang tua yang telah meninggal dunia, ia mengajak anak untuk tetap mendoakan mereka.
Dari keseluruhan kisah tersebut, pesan yang disampaikan UAS cukup sederhana: kedekatan anak dengan orang tua tumbuh dari percakapan, perhatian, keteladanan, nasihat, doa, dan kenangan yang dibangun sepanjang kehidupan.
Sumber:
- https://www.youtube.com/watch?v=C-n25aCvbrU









