Ada saat ketika manusia akhirnya lelah.
Bukan lelah karena hidup terlalu berat.
Tetapi lelah karena terlalu lama berperang dengan apa yang ada di dalam dirinya sendiri.
Sedih dilawan.
Takut ditolak.
Marah disembunyikan.
Rindu dikejar.
Bahagia digenggam.
Luka dipendam.
Dan semua itu diberi satu nama: โ๐๐ธ๐.โ
โAku sedang sedih.โ
โAku sedang marah.โ
โAku sedang takut.โ
โAku sedang bahagia.โ
๐ฃ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ต๐ฎ๐น…
siapa sebenarnya โ๐ฎ๐ธ๐โ itu?
Apakah engkau adalah kesedihan yang datang pagi ini?
Kalau kesedihan itu pergi, apakah engkau ikut pergi?
Apakah engkau adalah kemarahan yang muncul sesaat?
Kalau kemarahan itu reda, apakah engkau ikut menghilang?
Apakah engkau adalah kebahagiaan yang membuatmu tersenyum?
Kalau kebahagiaan itu berlalu, apakah dirimu menjadi tidak ada?
Lihat baik-baik.
Rasa selalu berubah.
Tetapi sesuatu di dalam dirimu mengetahui bahwa rasa sedang berubah.
Di situlah pintu pertama terbuka.
Bukan pintu menuju dunia lain.
Bukan pintu menuju kesaktian.
Bukan pintu menuju sesuatu yang jauh.
Tetapi pintu ๐บ๐ฒ๐ป๐๐ท๐ ๐ธ๐ฒ๐๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ป ๐ฎ๐๐ฎ๐ ๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ๐บ๐ ๐๐ฒ๐ป๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ.
๐๐ฒ๐น๐๐ต๐๐ฟ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ท๐ฎ๐ฟ๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐น๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐ฟ๐ฎ๐๐ฎ,
๐ง๐ฒ๐๐ฎ๐ฝ๐ถ ๐ท๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฝ๐๐น๐ฎ ๐๐ฒ๐ฟ๐ถ๐ธ๐ฎ๐ ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐ฟ๐ฎ๐๐ฎ.
Biarkan sedih datang.
Biarkan bahagia datang.
Biarkan marah muncul.
Biarkan takut berbicara.
Biarkan rindu mengetuk.
Rasakan semuanya tanpa harus menjadi semuanya.
๐ฆ๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐ฏ ๐ฟ๐ฎ๐๐ฎ ๐ต๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ต ๐๐ฒ๐๐๐ฎ๐๐ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฑ๐ฎ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ด๐ถ.
Ketika rasa naik, lihatlah.
Ketika rasa turun, lihatlah.
Ketika hati penuh, lihatlah.
Ketika hati kosong, lihatlah.
Jalani hidup ini dengan ๐ฝ๐ฒ๐ป๐๐ต ๐ธ๐ฒ๐๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ป, hingga rasa menjadi sunyi.
๐ฆ๐ฎ๐ฎ๐ ๐ถ๐๐๐น๐ฎ๐ต ๐ธ๐ฎ๐บ๐ ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐น๐ถ๐ต๐ฎ๐ –
๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐ฟ๐ฎ๐๐ฎ, ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐บ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป, ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐ต๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ต ๐๐ฒ๐ต๐ถ๐ฑ๐๐ฝ๐ฎ๐ป ๐ถ๐๐ ๐๐ฒ๐ป๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ.
Jangan buru-buru mengatakan,
โIni aku.โ
Karena yang engkau sebut โakuโ sering kali hanyalah rasa yang sedang lewat, pikiran yang sedang bergerak, atau pengalaman yang sedang terjadi.
Engkau bukan kemarahanmu.
Engkau bukan kesedihanmu.
Engkau bukan ketakutanmu.
Engkau bahkan bukan kebahagiaanmu.
Semua itu datang kepadamu,
tinggal sebentar,
kemudian pergi.
Maka jangan perang dengan rasa.
Perang hanya membuatmu semakin terikat kepadanya.
Jangan pula mengejar rasa yang menyenangkan.
Sebab apa yang dikejar akan membuatmu takut ketika ia pergi.
๐ฅ๐ฎ๐๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐ป๐ฝ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ด๐ฒ๐ป๐ด๐ด๐ฎ๐บ.
๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐ฎ๐ป๐ฝ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐ต๐ฎ๐ธ๐ถ๐บ๐ถ.
๐๐ถ๐ฎ๐ฟ๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐ป๐ฝ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐น๐ฒ๐ธ๐ฎ๐.
๐๐ป๐ถ๐น๐ฎ๐ต ๐น๐ฎ๐๐ถ๐ต๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ๐๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ป.
Hidup bukan tentang membuat setiap rasa menjadi sesuai keinginanmu.
Hidup adalah belajar menyaksikan seluruh geraknya tanpa kehilangan dirimu di dalamnya.
Sampai suatu ketika,
engkau tidak lagi sibuk bertanya:
โRasa apa yang sedang kurasakan?โ
Engkau hanya diam.
Dan dalam diam itu,
rasa perlahan kehilangan kekuasaannya.
Bukan karena rasa mati,
tetapi karena engkau tidak lagi menjadi budaknya.
Kemudian datanglah suatu keheningan yang tidak dapat dijelaskan.
Tidak ada yang perlu dikejar.
Tidak ada yang perlu ditolak.
Tidak ada yang perlu dibuktikan.
Tidak ada โakuโ yang sibuk menjadi seseorang.
๐๐ฎ๐ป๐๐ฎ ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐ธ๐ฒ๐ต๐ถ๐ฑ๐๐ฝ๐ฎ๐ป.
Mengalir.
Bernapas.
Bergerak.
Diam.
Dan pada titik itu, mungkin engkau akan memahami:
๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฟ๐ฎ๐๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ต๐ฎ๐ฟ๐๐ ๐ธ๐ฎ๐ ๐ต๐ถ๐น๐ฎ๐ป๐ด๐ธ๐ฎ๐ป,
๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฝ๐๐น๐ฎ ๐ฟ๐ฎ๐๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ต๐ฎ๐ฟ๐๐ ๐ธ๐ฎ๐ ๐ฐ๐ฎ๐ฟ๐ถ.
Yang perlu kau lihat adalah:
๐๐ถ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐น๐ฎ๐บ๐ฎ ๐ถ๐ป๐ถ ๐บ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐๐ฎ ๐๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ โ๐ฎ๐ธ๐โ ๐ฑ๐ถ ๐ฏ๐ฎ๐น๐ถ๐ธ ๐๐ฒ๐บ๐๐ฎ ๐ฟ๐ฎ๐๐ฎ ๐ถ๐๐?
Ketika pencarian itu benar-benar sunyi,
yang tersisa bukan lagi seorang pencari.
Hanya ๐๐ฒ๐ต๐ถ๐ฑ๐๐ฝ๐ฎ๐ป ๐ถ๐๐ ๐๐ฒ๐ป๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ.
Dan mungkin,
di sanalah kebebasan yang sesungguhnya bermula.
by: Iwan Setiawan








