HARIANEXPRESS, MAKKAH – Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Mochamad Irfan Yusuf, menegaskan fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) merupakan bagian paling krusial dalam penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M. (21/05/2026)
Hal ini lantaran jutaan jemaah dari seluruh dunia akan berkumpul di lokasi yang sama dalam waktu bersamaan.
Persiapan sangat matang diperlukan untuk menghadapi puncak ibadah haji ini. Menhaj menyatakan bahwa fase Armuzna membutuhkan perhatian ekstra dan konsentrasi penuh dari semua pihak terkait.
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi telah menyusun jadwal pergerakan jemaah calon haji secara ketat. Pengaturan ini bertujuan menghindari penumpukan massal, baik di hotel pemondokan maupun selama perjalanan menuju Armuzna.
Jemaah haji Indonesia dijadwalkan mulai diberangkatkan menuju Arafah secara bertahap pada 8 Dzulhijjah 1447 H, bertepatan dengan Senin, 25 Mei 2026. Pergerakan ini dilakukan dengan perhitungan dan jadwal yang diatur secara ketat oleh Kemenhaj.
Selanjutnya, pada 9 Dzulhijjah atau Selasa, 26 Mei 2026, jemaah akan menjalani wukuf di Arafah. Setelah itu, mereka akan bergerak menuju Muzdalifah dan Mina pada sore hingga malam hari.
“Armuzna adalah titik paling krusial dari proses haji. Di situlah seluruh jemaah haji dari seluruh dunia berkumpul di satu tempat, sehingga diperlukan persiapan yang sangat matang,” ujar Mochamad Irfan Yusuf (Menteri Haji dan Umrah) usai rapat bersama Amirulhaj di kantor daker Makkah, Arab Saudi, Kamis (21/05/2026).
Kementerian Haji dan Umrah juga menyiapkan sejumlah skema layanan mobilitas untuk mendukung kelancaran pergerakan jemaah di lapangan. Skema ini mencakup penerapan tanazul dan murur.
Selain kesiapan manajemen transportasi, Menhaj meminta jemaah calon haji untuk mulai fokus menjaga kondisi fisik dan mental menjelang hari puncak ibadah haji tersebut. Kemenhaj juga mengantisipasi tantangan distribusi logistik makanan dengan memaksimalkan pembagian makanan siap saji.
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, menambahkan bahwa Kemenhaj telah membentuk Satuan Operasional Armuzna. Hal ini untuk memastikan pergerakan jemaah berjalan bertahap, terukur, dan berbasis mitigasi kepadatan.