Kamis, 01 Oktober 2026
Hot

Pesantren di Ujung Senja – Senja yang Hampir Padam (Bagian 1)

Sebuah renungan mendalam tentang pesantren tua yang mulai sepi dan harapan baru dari kembalinya sang santri.

Article ad before first paragraph

Ipnu Subroto Penulis | Ridwan Habibie Editor

HARIANEXPRESS, CERPEN – Senja selalu datang dengan cara yang sama di Pesantren Al-Linuhung.

Ia turun perlahan dari balik pondok, menyapu halaman pesantren dengan cahaya keemasan yang lembut. Bayangan pohon-pohon tua memanjang di atas tanah yang mulai kering. Suara burung yang pulang ke sarang berpadu dengan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dari serambi bangunan tua yang telah berdiri hampir setengah abad.

Bagi sebagian orang, tempat itu mungkin terlihat biasa saja.

Article ad in the middle of article

Bangunan kayu yang mulai kusam. Dinding-dinding yang menyimpan bekas hujan bertahun-tahun. Papan nama pesantren yang catnya mulai mengelupas dimakan waktu. Atap bangunan yang sesekali bocor ketika musim hujan datang.

Namun bagi mereka yang pernah menimba ilmu di sana, Pesantren Al-Linuhung bukan sekadar bangunan.

Ia adalah rumah.

Tempat di mana ribuan doa pernah dilangitkan.

Tempat di mana anak-anak kampung belajar mengeja huruf hijaiyah sebelum mengenal kerasnya kehidupan.

Tempat di mana banyak orang menemukan arah ketika dunia terasa kehilangan jalan.

Di serambi bangunan itu, seorang lelaki tua duduk dengan kitab terbuka di pangkuannya.

Namanya Kiai Palil.

Usianya telah melewati tujuh puluh tahun. Rambutnya memutih, langkahnya tidak lagi sekuat dahulu, tetapi sorot matanya masih menyimpan keteduhan yang sama seperti puluhan tahun lalu ketika ia pertama kali mengajar para santri.

Tangannya perlahan membalik halaman kitab kuning yang mulai menguning.

Namun hari itu, matanya tidak sepenuhnya membaca.

Pikirannya sedang berjalan jauh.

Ia memandang halaman pesantren yang semakin sepi.

Dulu, setiap sore seperti ini, halaman tersebut dipenuhi suara langkah kaki santri. Ada yang membawa kitab, ada yang berlari mengejar waktu mengaji, ada yang berdiskusi di bawah pohon mangga tua dekat dapur umum.

Kini…

Suara itu semakin jarang terdengar.

Jumlah santri yang tinggal di pesantren tidak lagi sebanyak dahulu.

Bangunan asrama sebelah timur yang dulu penuh oleh anak-anak muda kini hanya dihuni beberapa kamar saja.

Sebagian orang tua memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah modern di kota.

Sebagian lainnya merasa pesantren sudah tidak cukup menjawab kebutuhan zaman.

Kiai Palil menarik napas panjang.

Bukan karena marah.

Bukan pula karena menyalahkan siapa pun.

Ia hanya sedang mencoba memahami perubahan.

“Zaman memang selalu berjalan,” gumamnya pelan.

Seorang santri muda yang sedang membersihkan halaman berhenti sejenak.

Namanya Fadli.

“Panjenengan bicara apa, Kiai?” tanyanya sambil mendekat.

Kiai Palil tersenyum kecil.

“Tidak apa-apa, Nak. Saya hanya sedang berbicara dengan waktu.”

Fadli tersenyum bingung.

“Dengan waktu?”

“Iya.”

Kiai Palil menutup kitabnya.

“Kadang manusia terlalu sibuk melawan perubahan, sampai lupa bertanya apakah perubahan itu sebenarnya musuh atau hanya tamu yang belum kita kenali.”

Fadli duduk di sampingnya.

“Kiai sedang memikirkan pesantren?”

Kiai Palil diam sejenak.

Lalu mengangguk.

“Dulu ketika saya pertama kali datang ke sini, tempat ini hanya tanah kosong dengan sebuah mushala kecil.”

Ia menunjuk ke arah bangunan tua itu.

“Almarhum guru saya berkata, jangan bermimpi membangun bangunan besar. Bangunlah manusia yang besar. Karena bangunan bisa runtuh, tetapi ilmu yang tertanam dalam hati manusia akan terus hidup.”

Fadli mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Tapi sekarang saya bertanya pada diri sendiri…” lanjut Kiai Palil.

“Apakah cara kita menjaga ilmu masih sama seperti dulu?”

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Angin sore melewati halaman pesantren.

Tidak ada yang menjawab.

Karena terkadang pertanyaan paling berat bukanlah pertanyaan yang membutuhkan jawaban segera.

Tetapi pertanyaan yang memaksa seseorang melihat dirinya sendiri.

Malam itu, setelah salat Isya, Kiai Palil berjalan menyusuri lorong pesantren.

Langkahnya pelan.

Ia melewati ruang kelas lama.

Pintu kayunya sedikit terbuka.

Di dalam ruangan itu masih tersimpan papan tulis hitam yang penuh goresan kapur.

Ada meja kecil tempat para santri dahulu belajar.

Ada rak buku tua yang berisi kitab-kitab warisan para guru sebelumnya.

Kiai Palil mengambil satu kitab dari rak.

Ia membuka halaman pertama.

Di sana tertulis nama seorang santri yang pernah belajar puluhan tahun lalu.

Santri itu kini telah menjadi seorang ulama di daerah lain.

Santri lain menjadi guru.

Sebagian menjadi pedagang.

Sebagian menjadi pemimpin masyarakat.

Mereka semua membawa sedikit cahaya dari Pesantren Al-Linuhung.

Kiai Palil tersenyum.

Mungkin pesantren tidak pernah benar-benar sepi.

Mungkin hanya bentuknya yang berubah.

Namun, ketika ia kembali melihat halaman depan pesantren dari jendela, hatinya kembali dipenuhi kegelisahan.

Di luar sana, dunia bergerak begitu cepat.

Anak-anak muda hidup dengan layar di tangan mereka.

Informasi datang tanpa batas.

Ilmu berpindah melalui teknologi.

Sementara pesantren masih berjalan dengan cara yang sama seperti puluhan tahun lalu.

Bukan karena salah.

Tetapi karena waktu tidak pernah berhenti menunggu.

Kiai Palil memandang langit malam.

Lalu berbisik:

“Ya Allah… jika pesantren ini adalah amanah, tunjukkanlah jalan agar ia tetap menjadi cahaya di zaman yang terus berubah.”

Keesokan paginya, kabar kedatangan seseorang mulai terdengar di antara para santri.

Seorang mantan santri lama akan pulang.

Seseorang yang dahulu belajar kitab di tempat yang sama.

Namun kini datang membawa pengalaman dari dunia yang berbeda.

Namanya…

Faris.

Dan tanpa mereka sadari, kepulangannya akan menjadi awal dari perjalanan panjang Pesantren Al-Linuhung.

Perjalanan antara tradisi dan perubahan.

Antara masa lalu dan masa depan.

Antara mempertahankan cahaya…

atau membiarkannya perlahan padam di ujung senja.

—

(Bersambung – Bagian 2)

Article ad after last paragraph