HARIANEXPRESS, JAKARTA — Ustadz Adi Hidayat mengingatkan umat Islam agar tidak memahami takwa hanya sebatas menjalankan ibadah ritual.
Dalam khutbah Jumat bertema “Bertaqwalah Kepada Allah”, ia menekankan bahwa ketakwaan harus tercermin dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk ketika bekerja, berkeluarga, berbicara, dan berhubungan dengan sesama.
Pesan tersebut disampaikan saat khutbah Jumat yang diawali dengan ajakan untuk senantiasa memuji dan mensyukuri nikmat Allah serta meningkatkan ketakwaan hingga akhir hayat.
Mengutip Surah Ali Imran ayat 102, Ustadz Adi Hidayat mengingatkan pentingnya menjaga ketakwaan secara sungguh-sungguh dan memastikan kehidupan berakhir dalam keadaan tunduk serta patuh kepada Allah.
“Jangan sampai kita wafat kecuali dalam keadaan muslim,” menjadi salah satu penekanan dalam khutbah tersebut.
Takwa dalam Setiap Peran
Menurut Ustadz Adi Hidayat, ketakwaan perlu dibawa ke dalam setiap peran yang dijalankan seseorang.
Seorang guru, misalnya, harus menjadi guru yang bertakwa. Seorang ayah harus menjadi ayah yang bertakwa. Demikian pula seorang anak, pejabat, pedagang, petani, maupun orang yang menjalankan profesi lainnya.
Dengan demikian, takwa tidak berhenti pada aktivitas ibadah tertentu, tetapi menjadi pedoman ketika seseorang menjalankan tanggung jawabnya.
Ia juga mengingatkan agar setiap orang memiliki amal yang dapat dipertanggungjawabkan ketika kelak menghadap Allah.
Takwa Tidak Hanya Diukur dari Ibadah Ritual
Dalam khutbah tersebut, Ustadz Adi Hidayat menegaskan bahwa takwa tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang menunaikan salat, berpuasa, atau membaca dan menghafal Al-Qur’an.
Ketakwaan juga terlihat dari cara seseorang berkata dan bertindak.
“Takwa juga ketika kita berkata yang benar. Takwa juga ketika kita berbuat jujur,” demikian pesan yang disampaikan dalam khutbah.
Ia juga mengaitkan ketakwaan dengan tanggung jawab terhadap keluarga. Keluarga perlu dipersiapkan agar tidak lemah dalam iman, ilmu, maupun kemampuan menggunakan harta untuk melakukan kebaikan.
Pesan tersebut menempatkan takwa sebagai prinsip yang seharusnya hadir dalam keputusan dan perilaku sehari-hari.
Jika Pernah Salah, Perbaiki dengan Amal Saleh
Ustadz Adi Hidayat juga mengingatkan bahwa manusia tidak terlepas dari kesalahan.
Karena itu, ketika seseorang pernah melakukan kesalahan, ia tidak seharusnya berhenti pada penyesalan. Kesalahan tersebut perlu diikuti dengan amal saleh yang dapat memperbaiki perjalanan hidup.
Ia mengutip pesan agar seseorang meningkatkan takwa di mana pun berada dan mengiringi keburukan dengan kebaikan.
Perbaikan itu kemudian perlu diwujudkan dalam hubungan sosial. Cara berbicara, melihat, mendengar, bepergian, serta memilih lingkungan dan tempat yang didatangi, menurut pesan khutbah tersebut, hendaknya diarahkan kepada hal-hal yang mulia.
Semua yang Dimiliki di Dunia Akan Berakhir
Pada bagian kedua khutbah, Ustadz Adi Hidayat mengajak jamaah melihat kembali kehidupan dari sudut pandang kematian.
Sesibuk apa pun seseorang, kesibukan itu akan berhenti. Sepintar apa pun seseorang, kepandaiannya akan memiliki batas. Kekayaan pada akhirnya akan ditinggalkan dan jabatan setinggi apa pun akan dilepaskan.
Kekuatan manusia pun pada waktunya akan melemah.
Karena itu, menurutnya, kematian merupakan kepastian yang perlu dipersiapkan. Setiap pekerjaan dan aktivitas kehidupan hendaknya memberikan bekal bagi seseorang ketika harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya di hadapan Allah.
Ia kemudian mendoakan agar sisa kehidupan umat Islam menjadi lebih baik dan setiap orang dapat meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
Pesan khutbah tersebut pada akhirnya mengajak jamaah untuk tidak hanya menjadi orang yang mengetahui nasihat agama, tetapi juga menerjemahkan ketakwaan menjadi perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.











