HARIANEXPRESS – Profesi dosen kerap dipandang nyaman dengan jadwal fleksibel, namun realitasnya dibebani tumpukan tugas administratif kompleks, menyita waktu serta energi, Kamis (30/7/2026).
Persepsi publik seringkali bertolak belakang dengan kenyataan objektif beban kerja dosen di Indonesia. Banyak orang mengira dosen hanya mengajar, meneliti, dan beristirahat, padahal keseharian mereka dipenuhi tugas lain yang kompleks.
Dosen tidak hanya dituntut mengajar di ruang kelas, tetapi juga harus menyusun laporan, mengisi berbagai sistem pelaporan, serta mengurus beban kerja dosen. Mereka juga wajib melakukan penelitian, publikasi, membimbing mahasiswa, hingga menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat.
Waktu dan energi para akademisi sering kali tersita oleh pekerjaan administratif yang kompleks dan berulang. Akibatnya, profesi yang terlihat “enak” dari luar justru menyimpan tekanan serta tuntutan yang tidak selalu terlihat publik.
Salah satu beban terberat adalah administrasi yang rumit, termasuk pengisian Beban Kerja Dosen (BKD) dan aplikasi SISTER. Dosen juga harus mencari bukti kinerja, mengurus administrasi kampus, serta terlibat dalam proses akreditasi dengan tenggat waktu kaku.
Beban akademik yang terus-menerus juga menjadi tantangan, meliputi revisi jurnal, menyusun proposal hibah, dan publikasi. Proses ini beriringan dengan revisi Rencana Pembelajaran Semester (RPS).
Tanggung jawab terhadap mahasiswa mencakup bimbingan skripsi, koreksi tugas dan ujian, serta input nilai yang harus diselesaikan tepat waktu. Seringkali, dosen masih harus menghadapi gangguan seperti pesan mahasiswa pada malam hari.
Kondisi kerja juga diwarnai hal tak terduga, seperti rapat mendadak dan kegiatan pengabdian masyarakat. Semua ini semakin memecah fokus dan perhatian dosen.
Syarif Yunus, Dosen Unindra, menegaskan kompleksitas profesi ini. “Jika publik mengira hidup dosen itu sederhana dan santai, realitanya adalah kumpulan dari puluhan tugas kecil maupun besar yang porsinya sangat terfragmentasi dan menuntut waktu ekstra,” ujarnya dalam tulisannya.
Kurangnya waktu pemulihan menjadi konsekuensi dari padatnya aktivitas ini. Dosen kerap “belum sempat istirahat” dan mengandalkan kopi untuk tetap bertahan di tengah tumpukan tugas yang tiada henti.
Kombinasi puluhan tanggung jawab kecil dan besar menciptakan tekanan mental serta kelelahan fisik yang kontras dengan persepsi publik. Persepsi bahwa dosen memiliki pembagian waktu rapi dan seimbang sangat berbeda dengan kenyataan objektif.
Selain beban kerja yang masif, Syarif Yunus juga menyoroti kondisi kesejahteraan dosen di hari tua. Ia menyatakan bahwa dosen tidak memiliki dana pensiun yang terjamin meskipun pensiun minimal di usia 65 tahun.


