HARIANEXPRESS – WiLAT Indonesia menegaskan peran sentral kesetaraan gender dalam mempercepat transisi ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan melalui forum “Beyond ESG”, Kamis (30/7/2026).
Organisasi Women in Logistics and Transport (WiLAT) Indonesia mengadakan acara WiLAT Indonesia Gathering 2026. Pertemuan ini bertajuk “Beyond ESG: Ketika Perempuan Menjadi Arsitek Ekonomi Sirkular” dan berlangsung di Jakarta.
Forum ini secara khusus didukung oleh Policy+ dan ViriyaENB. Diskusi tersebut menekankan integrasi kesetaraan gender sebagai elemen krusial dalam kebijakan serta strategi pembangunan yang berkelanjutan.
Penyelenggara forum menegaskan, penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) tidak boleh hanya sekadar pemenuhan kepatuhan. Sebaliknya, ESG harus menempatkan perempuan sebagai penggerak utama dalam perubahan.
Perempuan diharapkan mampu memegang kendali sebagai pembuat solusi konkret. Mereka juga menjadi arsitek perubahan dalam menghadapi krisis iklim dan transformasi ekonomi yang sedang berlangsung.
Ketua WiLAT Indonesia, Nurmaria Sarosa, menyatakan bahwa perempuan harus berperan sebagai pembuat solusi dan arsitek perubahan. Perempuan tidak hanya seharusnya menjadi penerima manfaat dari kebijakan yang ada.
Menurut Nurmaria, kesetaraan gender wajib dijadikan strategi utama dalam pembangunan ekonomi hijau di Indonesia. Ini karena keragaman perspektif terbukti melahirkan inovasi yang lebih inklusif.
Keragaman tersebut juga menghasilkan keputusan yang lebih berkualitas serta solusi yang lebih berkelanjutan. Oleh karena itu, peran aktif perempuan sangatlah vital.
“Transisi menuju ekonomi sirkular membutuhkan investasi pada teknologi hijau sekaligus investasi pada manusia. Ketika perempuan diberikan kesempatan yang setara untuk memimpin dan berinovasi, kita sedang membangun fondasi ekonomi yang jauh lebih tangguh bagi Indonesia,” ujar Nurmaria Sarosa (Ketua WiLAT Indonesia).
Integrasi kesetaraan gender ke dalam kebijakan dan strategi pembangunan berkelanjutan menjadi sangat penting. Langkah ini krusial untuk mempercepat transisi menuju ekonomi hijau yang lebih kokoh.


